AKAL SEHAT DALAM POLITIK
Musim politik yang berbarengan dengan musim hujan. Suatu perpaduan yang pas, karena perbincangan politik selalu bisa menghangatkan, atau bahkan memanaskan, suasana.
Atmosfer politik, setidaknya menurut saya, mirip dengan atmosfer sepak bola, dalam hal bahwa ia mampu menjadi magnet berkekuatan besar, yang mampu menarik berbagai kalangan, lapisan, dan generasi yang berbeda, untuk nimbrung di dalamnya.
Sama seperti sepak bola, arena politik adalah suatu kompetisi, untuk meraih posisi tertentu, sesuai target masing-masing kompetitor. Menariknya, politik juga bisa menjadi lumbung fanatisme, lagi-lagi seperti klub-klub sepak bola, yang masing-masing punya barisan suporter fanatik.
Maka dengan begitu, haluan dan pilihan politik masing-masing orang memang sulit untuk dipengaruhi, atau didoktrin, karena masing-masing orang sudah fanatik pada pilihannya. Karena ketika suatu pilihan didasarkan pada fanatisme, maka ruang negosiasi jadi tertutup.
Lalu yang terjadi selanjutnya, adalah debat kusir; perdebatan yang bukan untuk menyepakati realita, tapi lebih dalam rangka membenturkan dalih dengan pembenaran, klaim dengan alasan, atau persetujuan dengan penolakan.
Barangkali itu sebabnya, di musim politik sekarang ini, “akal sehat” menjadi salah satu terma yang cenderung trending dan diulang-ulang, di samping kata “cebong” dan “kampret”, dengan segenap turunannya, tentu.
Namun, ya tetap saja, perdebatan politik tidak akan pernah benar-benar merepresentasikan dialektika akal sehat, sebab sedari awal, masing-masing kubu telah mematok harga mati untuk pilihannya sendiri, dan harga nego untuk pilihan orang lain. Debat dengan modal ambisi dan fanatisme.
Maka tak heran, jika ada yang bilang, pilihan politik itu seperti pilihan jodoh. Jika ada remaja yang sudah sreg dengan pilihan hatinya, maka pilihan itu tak akan bisa dipengaruhi oleh siapapun, tak akan berubah oleh doktrin ataupun jampi-jampi. Pokoknya harus yang itu. Kalau tidak dengan yang itu, gak akan nikah!
Dengan begitu, sebenarnya, pemilik akal sehat dalam iklim politik adalah mereka yang menyadari realita tersebut, lalu berkemantapan hati, bahwa kepada orang yang telah memantapkan pilihannya, dia tak akan mendebatnya, juga tak akan merendah-rendahkan pilihannya, sambil meninggi-ninggikan pilihan sendiri.
Tapi, mungkinkah di masa depan kita bisa menikmati atmosfer politik yang lebih sehat, tenimbang iklim politik hari ini, yang penuh polusi ini? Akal sehat mengatakan, ya, sangat mungkin. Namun tentu, kita harus memulai dari diri kita sendiri.
Komentar
Posting Komentar