Meneladani Mentari
Terkadang melepaskan itu jauh lebih baik ketimbang menahannya.
Jujur, aku menyukainya. Aku tidak akan memberi komen apapun pada kekurangannya. Aku sungguh menyukainya. Aku memuji setiap jengkal bagian dirinya. Namun terkadang rasanya berbeda. Bukan karena bosan. Bukan itu. Hanya sesuatu yang berbeda di antara kita. Jarak? Bukan. Hanya karena aku tidak terbiasa menunggu hingga hatiku mulai ragu, dan bimbang untuk menghadapi setiap detik dari kumenunggu.
Aku yang mengatakan akan setia menunggu. Namun tersisa meninggalkan dari ucapanku. Bodohnya aku sudah menyia-nyiakan dirimu. Namun aku tidak menyesal, sebab kau denganku akan menimbulkan luka yang jauh lebih dalam. Itulah mengapa aku melepaskanmu. Karena aku menyukaimu. Lalu aku juga tidak mau melukaimu lebih dari itu. Jadi... Lebih baik kumelepaskanmu.
Bagaimana denganmu?
Apa kita sudahan? Aku tidak tahu apa yang akan kita hadapi setelah ini... Akan egois jikalau aku memintamu tetap dekat denganku. Sedangkan aku benci egois.
Jadi bagaimana caranya supaya kita balik ke "kita" yang lama?
Komentar
Posting Komentar