Akhirnya Aku Melepaskanmu

Merangkak turun dari kasur, dengan terseok-seok kuseret tubuhku menuju meja belajar. Meraih ponsel di atas meja, ku duduk menyandarkan punggung pada tembok, sembari memeluk lutut dengan gemetar dalam ruang kamar yang gelap.

Sudah cukup aku habiskan semua kala untuk menunggunya. Namun ia, tak kunjung datang. Tak kunjung memberi kabar. Membuatku hilang arah dan larut dalam penantian kosong yang membuatku tersesat. Membuka sebuah aplikasi chat, lalu mencari namanya di sana dengan cepat kuketikkan ucapan perpisahan dengan susah payah pada room chat ku dengannya. Sialnya, disertai air mata yang malah membuatku merasa sesak.

Sejak awal, tidak pernah mudah menerima seseorang menerobos masuk begitu saja dalam hidupku. Tetapi hadirnya yang menyenangkan itu perlahan-lahan menerobos masuk dalam semestaku. Membuatku larut akan rasa nyaman yang tak pernah kusangka akan berlangsung sementara. Membuatku lupa diri, aku tak lebih dari sekadar tempat ia bernaung kala bosan menghampirinya, dan ketika ia dilanda bahagia, ia ada pada tempat yang lain, yang bukan aku.

Membuat diriku terlihat bodoh karena menghabiskan ratusan purnama untuk menunggunya kembali padahal ia hanya akan kembali ketika dilanda kejenuhan. Ya, aku baginya tak pernah lebih hanya sekadar tempat penghibur sesaat saja ketika ia sedang bosan dan kesepian.

Hingga tibalah aku di ambang kesadaranku. Semua ini tidak benar. Semua ini salah. Aku yang terlalu bodoh, rela disakiti berulang-ulang kali padahal sudah jelas ia tak akan pernah menyediakan obat namun hanya semakin menabur perih atas luka yang kian menganga. Jika saja sejak awal aku tidak terlarut dalam rasa nyaman yang menyesatkan, tidak akan ada luka. Tidak akan ada rasa sakit.

Semesta, aku menyerah. Aku melepaskan ia dan kukembalikan ia padamu sepenuhnya. Jagalah ia karena aku tak akan lagi menanyakan kabarnya, apakah ia sehat ataukah ia sudah makan apa belum. Semesta, bawalah ia pada sosok yang lebih kuat, yang lebih sabar, karena aku tak akan bisa lagi bertahan dalam penantian seorang diri. Aku menyerah.

Aku melepasnya.

Perasaan pilu sekaligus curna membuatku kian luluh lantak ketika mengirim pesan perpisahan itu. Menghapus semua kontak tentangnya, semua history chat dengannya, kumatikan ponselku.

Aku melepasnya. Sungguh-sungguh melepasnya. I'm Leaving...
.
.
.
(Terinsiprasi dari kisah seorang sahabat, mahasiswa tingkat akhir yang sedang disibukkan dengan revisi skripsweetnya)

Komentar

Postingan Populer