Rencana Menoreh Luka

Tunggu aku sebentar lagi,
akan aku tuntaskan rindu yang tak pernah mati dan memberi tamat pada setiap tulisanku tentang kasih yang teramat.

Tunggu aku sebentar lagi,
biar kutumpuk dahulu lembar-lembar tentangmu yang begitu sendu dan kujadikan buku dengan rasa debar yang sudah membiru.

Tunggu aku sebentar lagi,
akan kupaksa semesta memberi jumpa lalu aku akan menyapa dengan segala sesak yang kutahan di dada.

Saat nanti dimana waktu sudah memberi temu, kuharap kamu tahu bahwa yang terjadi nanti adalah salah satu hal yang tak pernah aku inginkan. Akan kulupakan rasa malu dan mengajakmu menghabiskan satu hari denganku. Satu hari pertama dan terakhir kita bersama. Akan kutunjukkan padamu bagaimana aku sebenarnya, supaya kamu tidak hanya tahu dari kata orang saja. Juga akan kutunjukkan padamu bagaimana indahnya semesta saat menghabiskannya berdua.

Tidak,
kamu tidak perlu menggenggamku.

Biar aku yang menggenggam tangan itu karena aku tahu kamu gugup dan malu. Kita akan bersama sampai senja tiba lalu kuberi sebuah buku tentang segala rindu yang selama ini menggebu –tentang kamu yang selalu kutunggu namun tak mau tahu dan tentang kamu yang mampu membuatku bersemu.Ya, buku itu tentangmu dan akan menjadi milikmu.

Sebab aku tak mau lagi menyimpan itu, biar kukembalikan pada si pemilik rindu. Kuharap kamu tahu bahwa aku pun terluka saat itu tiba. Bukan, bukan karena perasaanku berubah. Perasaanku masih sama seperti saat pertamakali kita berjumpa dan aku jatuh cinta.

Tapi kupikir sudah saatnya aku pergi dan tak kembali saat kamu bahkan tak pernah mengungkapkan hati. Percuma. Aku seperti memaksamu untuk bersama padahal tidak sama sekali bahkan untuk sekedar balasan rasa aku tak pernah berharap tinggi.

Aku masih jatuh padamu bahkan saat nanti kita bertemu untuk menoreh luka baru.

Bukalah halaman terakhir dari buku yang kuberi nanti. Jangan terkejut saat lembarannya tidak terisi karena akan kutuliskan itu nanti saat kita sudah menghabiskan hari bersama dan menyambut senja berdua.

Usai.

Kata yang akan kutulis nanti di halaman terakhir pada buku yang kuberi. Kutulis di depanmu saat kita lelah bersama menghabiskan hari; kata yang sebenarnya tak pernah kuduga akan menjadi akhir dari kita.

Akhir dari segala cerita kita yang terus bersambung dan masih menggantung. Ya, kupilih untuk terlebih dahulu mengakhiri sebelum perasaan ini mati. Urusan luka setelahnya biar aku saja yang mengobatinya, tidak apa-apa aku bisa.

Dan untukmu, semoga jatuh cinta.

Aku akan pergi.

gadispenikmatsenja
#sajakhampabersamasenja

Komentar

Postingan Populer