Kepada Sepatah Kata yang Merayu Semesta

Tangis itu runtuh pada gelagat senjakala yang ranum hari ini. Terpenjara oleh duka, meluruh pada dinding perpisahan yang dibuat oleh semesta. Aku terpaku. Menatap kekosongan yang melompong dikuliti sepi seperti ini. Ada yang hilang dari separuh atmaku, ada yang menjebak aku untuk terperosok hingga sedemikan jauh. Memeluk kaki ringkihku sendiri yang kali ini sudah tak mampu menapak untuk sekadar mencari kebahagiaan yang ditawarkan pedagang asongan pinggir jalan.

Trotoar itu mengobral kenangan di antara pialang ulung. Sesekali sumbangnya bertegur sapa dengan klakson mobil dan debu-debu kota. Kelanaku berbalik arah dengan lekas, pada kolase nahas penuh napak tilas. Sapu tangan di sakuku berusaha hidup, menebak satu-satunya kerinduan yang aku hirup. Aku terbengkalai, pada takdir yang menelantarkanku begitu lalai. Aku terjerembab, pada keadaan penuh akibat tanpa pernah bersebab.

Aku mencium aroma tawa yang lesap, bagai debu berterbangan membawa sebuah ganjil pada dinding hari dan hati. Sepi bercengkerama lewat samar kedua jiwa yang tersenyum di ujung percaya. Kuulang memanggilnya, kuratap perginya tanpa alfa. Tetapi, tetap. Aku kini hanyalah sampah plastik yang rela diterbangkan angin untuk sekadar mengecup bahagia yang ingin aku terima. Mencoba mencerna setiap kehilangan, meski dalam hati raungan itu menyobek dinding keangkuhan. Haruskah semua kuterima dengan lapang dada ketika separuh duniaku hilang dalam sekejap mata?

Akad masa mengelabuhi amarahku, saat ribuan jejak bertutur semua akan baik-baik saja. Aku tercengang kembali, saat maut menamparku untuk kedua kali. Aku tak beralih, kalian tak kembali. Partitur kakofoni gagal tergenapi ulang, saat lebam kelam kepergian menolak usang. Lelahku gagal menemui sudah, pijakku nihil mencari arah. Segalanya kembali ke sebermula. Tenanglah, aku merebah. Berbahagialah.

Ada kala di suatu masa, sebuah jeritan terenyah dari perut bumi. Lahir adalah akhir dan aku adalah perupa itu. Menjelma menjadi sebuah kiblat yang menyirat masa. Aku ada di sana bersama bahagia yang tak pernah aku reka atau lupa. Kini, doa-doa panjang teretas dari gaung-gaung angin setiap hari. Setapak yang membungkus kenang itu aku abadikan bersama kisah aku, kamu, kita. Maaf, maafkan untuk segala yang belum mampu tergenapi. Terima kasih telah memberi hidup dan ruang yang tak terganti.

Perempuan Aksara

Komentar

Postingan Populer