BUKAN

Ternyata bukan kau.
Bukan aku.
Kau tak pernah pulang.
Sebab memang nyatanya, aku memang tidak pernah menjadi rumahmu yang tersayang.

Aku terlalu memaksa.
Memaksakan frasa rasa yang hanya membumbungkan renjana.
Aku terlalu memaksa.
Memaksakan hati yang memang tak ingin direngkuh aksara.

Pergilah sayang...
Ku ikhlaskan kau bahagia dalam hangat peluknya.
omong kosong!
Semua kata itu hanya omong kosong.
Melompong seperti sapi ompong.

Realitamu berkata kasar.
Hutan beton menertawakan ikrar yang berkoar.
Salahku memang dari awal hari.
Belum siap membuka pintu hati,
Tapi malah mempersilakan dengan lebih lebar lagi.
Hingga saat benih itu muncul membawa sejuta sengkarut.

Akarnya menggeliat membawa kabut.
Daunnya meranggas dengan sangat ganas.
Bertambah dua kali lebat saat kau menginjak dan merusaknya.
Percuma!
Yang kau lakukan bukan hanya membuatku terluka, tapi juga menambah kuat rasa di dalam dada.

Mungkin memang benar kau akan pergi.
Kususuri ujung jalan bernama alasan hakiki.
Melihat dari kaca mata cakrawala yang berbeda asanya.
Oh ternyata itu lebih baik ketimbang menambah panjang daftar rambatan nestapa.

Kau tidak benar-benar jahat rupanya.
Aku saja yang memang terlalu hobi menenggak luka.

Komentar

Postingan Populer