"Hentikan rasa cemasmu! Semua yang kamu pikirkan itu tidak nyata!"

Benar, semua itu tidak nyata. Namun, otakku memang kesulitan untuk memilah mana hal buruk yang benar-benar akan terjadi dan mana yang bukan. Semua terasa dan terlihat sangat nyata di benakku. Segala pikiran terburuk bisa muncul kapan pun dan aku masih merasa kesulitan untuk mengelola semua itu. Lebih tepatnya, aku masih belajar untuk mengendalikannya. Kumohon, mengertilah sedikit saja.

"Berhentilah bertanya! Itu sangat mengganggu!"

Benar, kebiasaanku ini pasti telah mengusikmu. Akan tetapi, ketahuilah bahwa aku akan selalu bertanya karena aku butuh mengendalikan pikiran-pikiranku. Aku butuh memastikan bahwa situasi nyata yang kini aku hadapi itu dalam keadaan baik-baik saja. Aku kerap merasa ragu apakah aku telah melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang seharusnya aku lakukan. Bukan, ini bukan tentang krisis rasa percaya diri. Ini lebih rumit dari hal itu. Bagaimana menjelaskannya? Aku pun tak tahu. Yang jelas, kuharap kamu tidak akan pernah merasakan hal itu.

"Jangan selalu meminta untuk diyakini bahwa semua akan baik-baik saja! Lihat dirimu! Tidak ada masalah pada dirimu!"

Benar, tidak ada masalah pada diriku. Aku menjalani kegiatan sehari-hari seperti orang lainnya. Akan tetapi, ada satu hal yang perlu kamu pahami. Ketika aku memintamu untuk mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, itu berarti aku sedang merasa bahwa duniaku runtuh seketika. Aku sedang merasa seperti hilang arah. Aku sedang merasa seperti aku tak tahu jika esok aku akan terlepas dari segala rasa resah dan lelah. Bahkan, aku merasa seperti duniaku berakhir. Bisakah kamu bayangkan? Tidak, kamu tidak bisa. Kamu justru akan mengatakan bahwa aku ini berlebihan.

"Sudahlah! Tidur saja sana! Biar aku tidak terus menerus mendengar kamu berbicara tentang rasa takut!"

Iya, kuharap aku juga dapat terlelap dengan mudah. Akan tetapi, semuanya terasa sulit. Bahkan untuk pergi tidur pun menjadi pilihan yang sulit. Aku akan terlelap dengan menyaksikan mimpi buruk tentang apa yang tak henti-hentinya kupikirkan, pun aku akan terbangun dengan rasa lelah yang tak kunjung hilang.

Jadi, maafkan aku. Jika kamu merasa lelah dalam menghadapiku, percayalah bahwa aku amat sangat lelah dalam menghadapi diriku sendiri.

Komentar

  1. Kalau kau lelah, bersandarlah
    bahkan beristirahat bersandar di ruang imaji kita sendiri
    mengarungi pikiran itu amatlah luas, mungkin lebih luas daripada samudera yang sebenarnya.
    maka bawalah serta kompas, peta dan navigator yang biasa mengarungi samudra pikiran,
    karna kamu tidak bisa sendiri mengarunginya
    meskipun itu pikiranmu sendiri.
    Mungkin kamu tau peta samudra pikiranmu sendiri, tapi mungkin kamu belum terbiasa menavigasikan arah dan menyibak diantara gelombang.
    Karena kala salah, kamu akan kehilangan arah, terombang ambing disamudra
    Pun mungkin yang kamu perlukan adalah diarahkan ke samudra baru, untuk menemukan benua baru yang indah, hingga kau lupa atau bahkan bersyukur perjuangan menerabas samudra mu itu, menemukan benua harapan baru yang indah dan di nanti. Hingga lupa terjangan gelombang, karena kau sudah sampai di tempat yang diharapkan.
    yang cemas cemasmu tentang gelombang itu, tak ada lagi.. :)

    istirahat sejenak, tidaklah mengapa. Pada saatnya kamu harus siap utk berpindah.
    berpindah itu butuh effort, butuh mental siapp untuk berpindah.
    katakanlah kala kau siap.. Semoga Allah memunjukkan navigator terbaik, utk perjalanan penuju benua impianmu itu..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer