Perkara Impas Tak Impas
Dulu, waktu aku merasa kalau hidup ini perkara “Impas”, aku selalu kesal sewaktu ada orang yang sedang sedih-sedih saja datang ke aku dan kalau sedang senang-senang lupa dengan aku. Semakin tua, aku semakin belajar kalau hidup tidak sekadar impas-impasan saja.
Bukan perkara mata balas mata, darah balas darah.
人 bacanya Ren.
Artinya orang, manusia.
Dua garis yang saling menopang. Filosofi kalau manusia hidup untuk menopang dan ditopang. Kamu bisa menopang A, kemudian ditopang B. Kamu bisa menopang A, kemudian A tidak menopangmu sama sekali. Kamu bisa ditopang B, kemudian B tidak kamu topang sama sekali.
Semua sudah ada porsinya. Untuk apa kamu sakit hati kalau A tidak balas menopang kamu? Toh ada B. Begitupun si B, dia bisa saja terus menopangmu tetapi tidak pernah kamu topang, dia malah ditopang A.
Semakin aku sadar kalau hidup di dunia ini sudah punya peran dan porsinya masing-masing, aku makin bisa menerima kalau orang lain tidak memperlakukan aku sebaik yang aku lakukan pada mereka. Begitupun sebaliknya. Jangan sedih sewaktu seseorang cuma datang ke kamu waktu mereka susah. Jangan mau termakan ungkapan,
“Giliran bahagia lupa gue, giliran sedih ke gue.”
Percuma. Tidak akan damai hidupmu.
Pahami kalau manusia punya peran sendiri-sendiri. Ya sesekali berpikir seperti itu tidak apa-apa. Namanya juga manusia, suka berharap lalu kecewa. Tetapi jangan lama-lama. Jangan sampai ada pahit yang kamu tanam di hatimu sendiri. Kalau sudah jadi dendam, kamu sendiri yang rugi.,
Komentar
Posting Komentar