Aku dan Semestamu

Matahari yang menolak terbenam demi memperpanjang sukacitamu menikmati sore. Malam yang datang tergesa-gesa agar berakhir hari lelahmu dan tubuhmu beristirahat di antara sulur-sulur kegelapanku yang menenangkan. Secangkir teh yang selalu menghangatkan dirinya agar tetap nikmat saat kauteguk pada pagi hari.

Aku ingin menjadi semua hal yang jarang dikerjakan semesta demi memenangkanmu. Kau, meski tengah merawat kesedihan, akan selalu mampu menemukanku untuk menawarkanmu sepotong senyuman. Hari-hari memang tidak selalu baik. Lelahmu memang tidak selalu cepat luluh. Namun, cintaku yang sederhana akan selalu mampu menjagamu dari hal-hal yang menakutkan dan membinasakan. Kau tetap akan jatuh, tetapi tidak sampai tergeletak karena lengan-lenganku diciptakan Tuhan persis untuk menahan dan memelukmu.

Rumah sederhana yang kita bangun berdua akan selalu kuhangatkan dengan tulisan dan pelukan. Pada suatu sore yang mendung dan sepi, tangan hangatmu menggenggam tangan kiriku sedang tanganku yang lainnya sibuk menuliskan puisi cinta yang untukmu. Kausibuk memperhatikan kertasku, aku sibuk menenangkan debar jantung yang kian menjadi-jadi.

Lalu saat puisiku selesai, kau menggenapkannya dengan pelukanmu. Tulisan pada lembar kertas itu menjadi sangat beruntung dibandingkan kertas lainnya karena telah melihat bagaimana aku jatuh cinta berkali-kali dan berbalas berkali-kali pula oleh cinta yang sama, cinta sederhana yang telah jauh perjalanannya.

Aku adalah dongeng yang kaubaca lalu rekam untuk menjadi pengantar tidurmu. Aku ingin ada dalam hangat suaramu, lalu mampu menenangkanmu saat mimpi kurang baik datang mengganggu.

Semoga tubuhku kelak mampu menenangkan jiwa dan isi kepalamu dan kegelisahanmu akan hidup dan kematian.

Selamanya, sampai pipimu terlipat oleh keriput-keriput, atau matamu yang taklagi terang untuk membaca mataku. Aku ingin mencintaimu sampai segala kekurangan akhirnya semakin nyata dan dengan begitu, kita menua untuk semakin saling menguatkan.

Berproseslah denganku. Hingga kelak kematian membayang dan satu-satunya hal yang kusyukuri dalam doa sambil menggenggam tanganmu adalah betapa Tuhan sungguh baik telah merampungkan hidupku dengan kau yang takpernah putus mendoakanku. Kau yang sanggup menerima semua cacatku dengan tanpa sanggahan. Kau satu-satunya orang yang bersedia menangis menggantikanku meredakan sedih dan gamang. Kau yang mau melakukan apa pun yang bahkan jarang dikerjakan semesta demi menenangkanku.

Pada akhirnya, bagaimana cara aku mencintaimu adalah cermin dari semua hal yang telah kaulakukan. Terima kasih telah selalu ada. Tuhan terlampau baik. Ia tahu, yang kubutuh memang kau.

Bandar Lampung, 19/11/19

Komentar

Postingan Populer