JLEB !!!
Satu sisi," ucap Farah kala itu, "punya penyakit itu enak, tahu."
Aku menoleh mendengar suaranya,
'Lah? Enak apanya?' Batinku.
Aku hanya menatapnya. Nampaknya ia menyadari bahwa itu adalah tatapan keheranan.
"Iya," ia tersenyum kecil, "kamu jadi punya penyemangat.. Dan pengingat tersendiri."
Kali ini aku tak mampu membendung kebingunganku,
"Pengingat... Untuk?"
"Untuk mengingatkanku bahwa hidup ini tak selamanya.. Dan mati bisa kapan saja.. Dengan cara.. ya.. kita tak pernah tahu dengan cara apa.." sejenak ia menghela nafas.
"Dan kalau kita punya penyakit, bayangan kematian itu semakin nyata.. kenapa? Sebab salah satu penyebab matinya itu selalu mengintai.. ada dalam tubuh kita..."
Jleb!
"Far.. Farah.." lirihku, kehabisan kata.
"Hehe," ia kembali tersenyum, "tapi justru itulah yang sekaligus jadi penyemangat. Agar tiap detik hidup kita tak dijalani dengan sia-sia. Agar segala sesuatunya, lebih bermakna.." itulah senyumannya
"Ah, dan satu lagi! Agar kita pun berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Lha wong masih diberi kesempatan hidup aja harusnya bersyukur. Gak usah lah nambah penyakit (hati) dengan iri dengki.. lebih baik fokus sama kehidupan sendiri.." Ia :) lagi, dengan mata berbinar.
Kemudian petugas memanggil namanya. Ia pun masuk ke dalam ruangan, bertemu dokter.
Bila datang suatu hari dimana kau divonis mengidap penyakit, apa yang kau rasa?.
Depresi, kah? Putus asa?.
Atau kau bisa setegar Farah? Yang menerima apa yang ditakdirkan padanya, seraya berusaha mengambil hikmah.
Komentar
Posting Komentar