Harga Setetes Air Mata
Dia masuk ke rumah dengan terisak. Tas nya ia lemparkan sembarang. Kejadian tadi sungguh membuatnya terpukul. Sepanjang jalan ia menahan tangisan. Dan sekarang, air mata itu tak perlu menunggu untuk ditumpahkan.
Sebenarnya ini masalah kecil. Perihal melihat sesuatu yang tak bisa dimiliki. Ah, ya, mungkin ini yang disebut iri hati.
Perasaan itu sudah tertimbun lama. Ia selalu membayangkan seandainya ia punya, mungkin hidup akan sempurna. Yang akhirnya terakumulasi dalam air mata dan tanya, "Mengapa aku tak punya? Mengapa aku tak bisa seperti mereka?!"
Amarah itu tak terbendung lagi, rupanya.
Hingga kemudian ia ingat. Ia ingat di suatu masa seorang pembicara menyampaikan
renungan tentang ayah bunda. Yang membuatnya tak bisa menahan tangis, karena merasa belum jadi anak yang berbakti.
Kemudian ia ingat. Saat air mata menjadi lambang dari rasa kagum, cinta, dan rindu yang tak tertahankan. Yaitu setiap ia membaca Sirah Nabawiyah. Setiap disampaikan padanya kisah keagungan pribadi Rasulullah shallallaahu 'alayhi wa sallam dan sebesar apa perjuangannya.
Ia menangis. Pengorbanan Rasulullah shallallaahu 'alayhi wa sallam dan para shahabat untuk islam begitu nyata. Sementara ia, berkontribusi apa?
Ia menangis. Sebab Rasul shallallaahu 'alayhi wa sallam telah menyebut dan merindukannya, walau belum pernah bertatap muka.
Kemudian ia ingat. Derasnya hujan air mata kala sadar betapa ia mendambakan surga, namun masih melakukan amalan ahli neraka.
Ia ingat. Bagaimana tangisnya membanjiri sewaktu terngiang dosa-dosa dan seringnya ia mendzhalimi diri sendiri. Rasanya... menyesal sekali. Dan tak mau mengulanginya lagi. Semakin sadarlah ia betapa hinanya diri.
Dan betapa ia tak mensyukuri...
Bahwa bagaimanapun keadaan diri ini, nikmat dan karunia-Nya tak pernah absen menghampiri.
Astaghfirullah...
Dan kini, ia malah seperti ini. Bersedih karena masalah sepele, yang sebenarnya tak layak ditangisi.
Ia berpikir,
"Ya Rabbi, mengapa aku mempermasalahkan hal seremeh ini?"
Ah, betapa malunya... Menangisi sesuatu padahal masih banyak hal yang jauh menusuk hati untuk direnungi.
.
.
.
Maka hari itu, ia berjanji.
Bahwa ia tak mau membuang air mata dengan percuma.
Dan bahwa ia takkan menangis lagi,
kecuali karena Allah dan Rasul-Nya.
Komentar
Posting Komentar