Rindu Tak Bertuan
Taukah rasanya merindu? Disaat engkau paling merindukannya, justru di kala engkau paling memerlukan hangat tatap dan sejuk senyumnya?
Saat memori yang ada tak cukup untuk tiap dahaga jiwa, dan kenangan mulai memudar karena terus diputar balik. Aku tetap bertahan juga menahan airmata
Mencoba menerka-nerka, apakah langit yang sama yang kaupandangi jua malam ini. Mencoba mengira, apa lantunan yang ada di hatimu, adakah aku?
Mereka bilang aku takkan bisa membahagiakanmu, mereka kata aku terlalu lemah untuk melindungimu, tapi mereka buta dan tuli dari kebenaran, yakinkan itu
Tangan mereka bisa menahanku darimu, tapi hatiku takkan bisa mereka sentuh, asa dan citaku masih terbang bebas, mengejek mereka dari ketinggian
Andai tidak karena ayat-ayat yang kubaca, sudah pecah hatiku menahan gempuran rindu. Andai bukan sebab kalimat thayibah, meracau dan mengeluh lidah ini
Yang mereka coba tahan adalah takdir hujan untuk membasahi bumi, yang mereka coba hadang adalah suratan matahari menyinari semesta
Tunggulah sebentar lagi, tahan kakimu pada tempatnya. Aku janji, tak lama lagi semua ini akan selesai. Semua, termasuk mereka akan ada akhirnya
Sampai saat itu tiba, petiklah tiap buah kenangan itu, jagalah dan peliharalah dengan harapan yang tersisa, jangan sekalipun meniup keraguan padanya
Sebagaimana rintik hujan yang terakhir jadi penanda cerahnya cuaca. Begitulah semua ini akan jadi mukadimah abadinya kisah antara engkau dan aku
Kebersamaan kita itu sudah tertulis rapi, pasti seperti janji dari Tuhan yang tak mungkin diingkari, bagi sesiapa yang meyakini dan bersabar dalam penantian
Komentar
Posting Komentar