Seikhlas Awan Mencintai Hujan

Kehilanganmu, Dia Kehilangan Bahagianya

Ada air mata yang tak bisa ditahan jatuh setiap kali dia menyebut namamu di dalam doanya. Ada sesak yang tak bisa dibungkam di dadanya setiap kali dia mengingat kenangan yang pernah kau dan dia lalui bersama. Dan ada jari-jemari yang tiba-tiba kaku setiap kali dia ingin menulis sebuah pesan untukmu, meski hanya sebuah pesan berisi sapaan bertanya kabar. Dia memahami, kepadamu, tak ada lagi haknya walau sekadar menyampaikan rindu. 

Kini, kau sudah bukan seseorang yang dulu lagi, kau sudah asing, bahkan terlalu asing, tetapi malangnya seluruh perasaannya padamu masih begitu saling. 

Hari-harinya berganti sepi, malam-malamnya berubah sunyi, kepalanya kerapkali dipenuhi pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban.

Apakah nanti kau akan kembali atau selamanya pergi?

Apakah nanti mampu ikhlas menerima semua ini?

Apakah nanti akan hadir seorang pengganti?

Dia tak tahu, dia hanya dapat mengelus pelan dadanya 
sembari berucap semoga Tuhan menjawabnya. 

Jangan kau tanyakan tentang kenapa dia sehancur itu, kenapa dia serapuh itu, kenapa dia selemah itu, karena kau tak akan pernah tahu sampai kau merasakan bagaimana sakitnya dilukai oleh seseorang yang kepadanya kau sangat berharap sembuh.

Dulu, sebelum mengenalmu dia pernah mengenal seseorang, mencintainya sedalam dia mencintaimu, menyayanginya setulus dia menyayangimu. Namun, dia dipatahkan, dia dikecewakan. Sehingga untuk menerima siapa pun lagi, dia tak ingin, dia tak percaya lagi pada yang lain. Pupus harapnya, hilang yakinnya, berubah caranya memandang cinta. 

Lalu, entah dari mana, tiba-tiba kau datang, memberinya tenang, merangkulnya berdiri, melatihnya berjalan kembali, menerangkan pandangannya, menggenggam tangannya, memeluk kesedihannya. 

Denganmu, dia menganggap bahwa kau berbeda dari yang sebelumnya, dia menganggap bahwa kau adalah malaikat penyelamat dirinya yang hampir sekarat. 

Ironis, di tengah perjalanannya menuju pulih, kau berpaling ke arah lain yang kau pilih, meninggalkannya tanpa menoleh. Bahkan tanpa ada kalimat berpisah meski sepatah. Kau berlari sejauh-jauhnya, dia jatuh sejatuh-jatuhnya.

Jahat? Iya, kau jahat. Tapi tak sedikit pun terlintas di pikirannya kau begitu, tak sedikit pun tersimpan di hatinya benci dan dendam terhadapmu. Baginya, kau tetap sosok baik yang pernah memperbaikinya, kau tetap malaikat penyelamat yang pernah menyelamatkannya.

Untukmu; Andai kau merasa bersalah, andai kau merasa berdosa setelah menyadari bahwa ada seseorang yang kau buat remuk seluruh hidupnya, sudahlah, tak usah, karena sungguh dia telah memaafkanmu. Hanya, perihal melupakanmu dia belum mampu. 

Mungkin, semua memang inginnya Tuhan, mempertemukannya denganmu agar dia kembali belajar merelakan. Menyesalinya pun tidak berguna, tidak akan mengubah apa-apa.

Namun, bila sempat, doakanlah, semoga dia dapat berdiri tegak tanpa dirangkul olehmu, semoga dia dapat berjalan jauh tanpa ditatih olehmu, dan semoga dia dapat melihat terang tanpa diberi cahaya olehmu.

Kehilanganmu, dia kehilangan bahagianya, dia kehilangan kedua kalinya

Komentar

Postingan Populer