Maaf untuk lelah (hatimu) hari ini

Selamat malam untuk kesekian kalinya. Hari ini bagaimana? Lelah lagi ya? Sudah tidur kan? Semoga mimpi yang paling indah, karena dunia nyata takkan pernah bisa memberikannya pada kita. Dan dari sebatas ilusi yang berkelibat, semoga dapat menjadi sarana pelupa, akan sedih yang lalu dan yang pernah ada.

Maaf, maaf, maaf. Maaf dunia tidak pernah lembut kepadamu. Maaf karena kamu sudah diajarkan untuk tidak berharap banyak bahkan sejak masih kecil usia. Maaf karena kamu harus dihadapkan pada berpuluh-puluh kehilangan hingga bahkan untuk memelihara kucing lagi saja kamu enggan. Maaf kamu harus belajar bahwa harapan identik dengan rasa sakit. Maaf karena dunia tak mengizinkan kamu menumpahkan isi hati. Maaf karena dunia membungkam sedihmu sendiri. Maaf karena dunia memaksamu berlagak karang di saat kamu sudah lelah bahkan. Maaf karena lukamu tidak banyak yang mau mendengarkan. Maaf atas segala tangis yang kamu simpan sendirian. Maaf.

Tapi terima kasih kamu sudah bertahan tegar. Terima kasih pelan-pelan mencari distraksi dan bahagiamu di sela segala kompleksitas hal yang harus dipikirkan. Terima kasih telah belajar memakai topeng tawamu ketika tangismu tumpah. Terima kasih terus menguatkan orang-orang ketika kamupun lelah. Terima kasih atas kamu sebagai dirimu. Terima kasih tidak menyerah.

Kamupun boleh menunjukkan kalau kamu tidak baik-baik saja. Padaku, kamupun boleh bercerita, apa saja.

Maaf jika seakan ini perihalku semua. Maaf jika aku bersikap seakan lukaku paling besar, paling menyedihkan. Padahal kamupun penting, lukamu penting, sangat penting malah. Telingaku kuusahakan siap sedia, mataku kuusahakan siap membaca. Aku tak pernah ingin kamu merasa sendirian. Aku di sini, ya?

Yang ingin aku katakan, aku bangga padamu. Aku bangga kamu sudah sejauh ini. Aku bangga kamu sekuat ini. Aku bangga padamu karena kamu dirimu. Dan kamu cukup, sangat cukup bahkan untuk dicintai dan disayangi orang-orang. Lukamu yang membuat kamu seindah ini, isi kepalamu itu indah.

Kalau kamu protes dan berdalih itu tidak karena masih ada hitamnya, bahkan lukisan indah saja masih harus menggunakan warna hitam, bukan? Kamu membarengi hitam itu dengan berjuta warna lain. Kamu berusaha menyelesaikan pekerjaan kamu walau terkadang enggan karena kamu memikirkan kolegamu yang akan kelelahan. Pikiran ini indah. Kamu memikirkan banyak hal tentang orang lain, padahal kamu bisa bersikap egois dan bodoh amat sedari kapan. Termasuk pun tentang aku. Pikiran ini juga indah. Dibalik hitam itu, pikiran kamu indah. Sangat.

Diksi Untuk Langit

Komentar

Postingan Populer